“Guru Kembali Menelan Harapan Palsu”
Edisi 22 Mei 2026
Pidato Presiden Soal Kenaikan Gaji 300 Persen Sempat Mengguncang Dunia Pendidikan, Ternyata untuk Hakim
Harapan besar sempat membumbung tinggi di kalangan guru Indonesia usai pidato Presiden Republik Indonesia di gedung rakyat yang menyampaikan adanya kenaikan gaji hingga 300 persen.
Namun harapan itu mendadak runtuh setelah diketahui bahwa kenaikan fantastis tersebut ternyata diperuntukkan bagi hakim, bukan guru sebagaimana sempat dipahami sebagian masyarakat.
Situasi itu memunculkan kekecewaan mendalam di kalangan guru, khususnya guru madrasah swasta, guru honorer, dan tenaga kependidikan yang selama ini masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan.
Ketua PW PGM Indonesia Jawa Timur menyampaikan bahwa pidato tersebut sempat menjadi angin segar bagi jutaan guru yang bertahun-tahun menunggu keberpihakan nyata negara terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.
"Harapan yang membumbung tinggi mendadak jatuh seperti kapur tulis di ujung jam pelajaran,” ungkapnya.
Menurutnya, pernyataan itu sempat memantik optimisme besar di tengah kondisi guru yang hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan:
penghasilan yang minim,
status yang belum jelas,
serta ketimpangan kesejahteraan antara guru ASN dan non-ASN.
Namun kenyataan berkata lain.
Apa yang awalnya terdengar sebagai kabar baik bagi dunia pendidikan, berubah menjadi ironi yang menyisakan kekecewaan mendalam.
Guru Jangan Terus Dijadikan Penonton
PW PGM Indonesia menegaskan pihaknya tetap menghormati kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan aparat penegak hukum, termasuk hakim.
Namun negara juga diminta tidak melupakan guru yang selama ini menjadi “mesin sunyi” pencetak generasi bangsa.
Guru, menurut PGM Indonesia, bukan hanya profesi administratif, melainkan fondasi utama masa depan bangsa.
"Guru tidak membutuhkan janji yang membangun harapan semu. Guru membutuhkan kebijakan nyata yang menghadirkan kesejahteraan, perlindungan profesi, dan penghormatan terhadap pengabdian mereka,” tegas Ketua PW PGM Indonesia Jawa Timur.
Ia menambahkan bahwa pendidikan berkualitas tidak mungkin lahir dari guru yang terus dipaksa hidup dalam keterbatasan.
Kesejahteraan Guru Adalah Investasi Bangsa
PW PGM Indonesia Jawa Timur menilai bahwa kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan nominal gaji.
Lebih dari itu, kesejahteraan guru adalah investasi strategis menuju Indonesia Emas 2045.
Sebab di balik cita-cita besar bangsa, terdapat jutaan guru yang setiap hari:
mengajar dalam senyap,
mendidik dengan ketulusan,
dan bertahan di tengah keterbatasan.
Namun ironisnya, mereka sering kali hanya mendapatkan:
* tepuk tangan,
. slogan penghormatan,
. dan janji yang berulang.
PGM Indonesia berharap pemerintah pusat benar-benar menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada guru, khususnya guru madrasah swasta dan non-ASN, agar keadilan pendidikan tidak hanya menjadi pidato, tetapi benar-benar dirasakan dalam kehidupan nyata.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar