Madrasah Ramah Anak: Ikhtiar PGM Indonesia Menjaga Masa Depan Generasi Bangsa

 



Oleh. Moh. Salim Ketua PD. Pgm Indo Bondowoso

Radar Pendidikan | PW PGM Indonesia Jawa Timur

Anak memiliki hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Kalimat ini kerap terdengar normatif dan indah dalam dokumen kebijakan. Namun dalam praktik pendidikan sehari-hari, hak-hak tersebut sering kali rapuh. Ketika seorang anak tidak berani menyampaikan pendapat di kelas karena takut disalahkan, hak partisipasinya sedang terancam. Ketika anak kelelahan oleh tumpukan tugas dan tekanan target, hak tumbuh kembangnya patut dipertanyakan. Kenyataan ini mungkin tidak nyaman diakui, tetapi itulah realitas yang sedang dihadapi dunia pendidikan.


Di sisi lain, teknologi datang tanpa permisi. Gawai masuk ke ruang kelas, ke kantong seragam, bahkan ke ruang batin anak-anak. Media sosial membentuk cara mereka memandang diri, nilai diri, dan relasi sosial. Tak jarang, anak lebih cemas tidak direspons di dunia maya daripada tidak dipahami di dunia nyata. Dalam situasi seperti ini, lembaga pendidikan—termasuk madrasah—sering terasa tertinggal satu langkah di belakang perubahan zaman, sementara tantangan terhadap karakter, kedisiplinan, dan kesehatan mental anak terus meningkat.


Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Mulyawan Safwandy Nugraha, Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Direktur Research and Literacy Institute, sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi. Beliau menegaskan bahwa pendidikan hari ini harus lebih peka terhadap suara anak dan lebih adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi. Madrasah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu, melainkan harus hadir sebagai ruang aman, ruang dialog, dan ruang pertumbuhan yang memanusiakan anak.


Kesadaran inilah yang menguatkan komitmen PGM Indonesia. PGM Indonesia hadir bukan hanya untuk memperjuangkan profesionalisme dan kesejahteraan guru, tetapi juga untuk mengayomi peserta didik. Melalui penguatan peran guru dan tata kelola madrasah, PGM Indonesia mendorong terwujudnya Madrasah Ramah Anak sebagai tanggung jawab bersama.


Komitmen tersebut ditegaskan dalam Deklarasi Madrasah Ramah Anak, yang turut dihadiri oleh Perwakilan PW PGM Indonesia Jawa Timur, bersama jajaran pengurus PP, PW, dan PD PGM Indonesia dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kehadiran lintas struktur ini menjadi simbol keseriusan dan kesatuan langkah bahwa madrasah di Indonesia peduli terhadap persoalan anak-anak bangsa.


Deklarasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan seruan moral dan pedagogik bagi seluruh madrasah di Indonesia. Madrasah diharapkan menjadi lingkungan belajar yang aman, bebas dari kekerasan, menghargai suara anak, serta menumbuhkan karakter tanggung jawab dan disiplin melalui pendekatan yang manusiawi dan penuh cinta. Karena pada akhirnya, pendidikan yang bermutu bukan hanya melahirkan anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga anak yang merasa dihargai, dilindungi, dan disiapkan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *